BATUAN RESERVOIR

Tinggalkan komentar

Batuan Reservoir adalah wadah permukaan yang diisi dan dijenuhi oleh minyak dan gas bumi. Ruangan penyimpanan minyak dalam reservoir berupa rongga-rongga atau pori-pori yang rendah. Pada hakekatnya, setiap batuan dapat bertindak sebagai batuan reservoir asal mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan melepaskan minyak bumi. Dalam hal ini batuan reservoir harus menyandang dua sifat fisik penting yaitu harus mempunyai porositas yang memberikan kemampuan untuk menyimpan, dan juga kelulusan atau permeabilitas. Jadi secara singkat dapat disebut bahwa batuan reservoir harus berongga-rongga atau berpori-pori yang berhubungan. Porositas dan permeabilitas sangat erat hubungannya, sehingga dapat dikatakan permeabilitas tidak mungkin tanpa adanya porositas, walaupun sebaliknya belum tentu demikian. Batuan dapat bersifat porous tetapi tidak permeabel.

Perbedaan antara porositas dan permeabilitas adalah bahwa porositas menentukan jumlah cairan yang terdapat, sedangkan permeabilitas menentukan jumlahnya yang dapat diproduksikan. Dilain pihak, suatu batuan reservoir juga dapat bertindak sebagai lapisan penyalur aliran minyak dan gas bumi dari tempat minyak bumi tersebut keluar dari batuan induk (migrasi primer) ke tempat berakumulasinya dalam suatu perangkap. Bagian suatu perangkap yang mengandung minyak atau gas disebut reservoir. Jadi reservoir merupakan bagian kecil daripada batuan reservoir yang berada dalam keadaan demikian sehingga membentuk suatu perangkap.

Syarat-syarat untuk disebut reservoir minyak bumi adalah :

  • Batuan reservoir diisi dan dijenuhi oleh minyak dan gasbumi, biasanya merupakan batuan yang berpori-pori.
  • Lapisan Penutup (Cap Rock), batuan yang tidak tembus minyak, terdapat di atas reservoir.
  • Perangkap reservoir, bentuk reservoir sedemikian rupa sehinga minyak bumi daoat tertampung.
Batuan yang menyandang sifat porositas dan permeabilitas yang baik adalah batupasir dan karbonat (batugamping dan dolomit). Karena itu minyak dan gas bumi 61% didapat dari batupasir, 39% dari batuan karbonat dan sisanya 1% dari reservoir lain, misalnya rekahan-rekahan pada batuan beku.
Key Words : Porositas, Permeabilitas dan Reservoir

MIGRASI HIDROKARBON

Tinggalkan komentar

Minyak bumi yang terbentuk sebagai tetes-tetes kecil atau mungkin sebagai koloid di dalam batuan induk karena pengaruh tekanan atau buoyancy (pelampung) akan bergerak dan mengalir ke dalam batuan reservoir. inilah ang disebut dengan Migrasi Hidrokarbon.

 

Dibedakan 2 cara migrasi minyak dan gas bumi yaitu :

  • Migrasi Primer : Perpindahan hidrokarbon dari source rock ke carrier bed. Migrasi primer berjalan lambat karena minyak bumi harus cukup untuk keluar dari batuan induk yang memiliki permeabilitas matrik yang rendah. Migrasi primer berakhir ketika hidrokarbon telah mencapai “permeable conduit” atau “carrier bed” untuk terjadinya migrasi sekunder.

  • Migrasi Sekunder : Perpindahan hidrokarbon dari carrier bed ke jebakan atau trap. Problem yang sering dihadapi adalah pore throat lebih kecil dibanding oil stringers, karenanya oil stringers akan tertahan. Untuk dapat bergerak, maka “bouyancy” >>> “capillary-entry pressure (setelah akumulasi tercapai). Jika capillary-entry pressur >>> buoyancy, maka migrasi sekunder akan terhenti hingga capillary-entry presure tereduksi dan Buoyant force meningkat.

DESKRIPSI MINERAL BERDASARKAN SKALA MOHS

Tinggalkan komentar

TALK
 
 
 
Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: Mg3Si4O10(OH)2
Komposisi: Hydrated Magnesium Silicate
Sistem Kristal: Monoklin
Warna: Putih, abu keputihan, kuning keputihan, coklat kekuningan, hijau pucat
Kristal Habit: Foliated, fibrous
Kilap: Non Logam ( Vitreous, greasy, waxy, pearly )
Cerat: Putih
Belahan: 1 arah
Kekerasan: 1 skala mohs
Tenacity: Sectile
Transparansi: Transparan, opaque
Pecahan: Uneven
Density: 2,78
Genesis: Ditemukan di batuan metamorf jenis ultrabasa. Banyak pula ditemukan pada alterasi hidrothermal.
GYPSUM
Kategori: Mineral Sulfat
Rumus Kimia: CaSO4 · 2H2O
Komposisi: Calcium Sulfate Dihydrate
Sistem Kristal: Monoklin
Warna: Putih, Bening, Transparan
Kristal Habit: Tabular, Masif
Kilap: Non Logam ( Vitreous, silky, waxy, pearly )
Cerat: Putih
Belahan: 2 arah
Kekerasan: 2 skala mohs
Tenacity: Sectile, flexible
Transparansi: Transparan, opaque, Translucent
Pecahan: Uneven, Splintery, Choncoidal
Density: 2,3
Genesis: Deposit sedimen hasil evaporasi
KALSIT
Kategori: Mineral Carbonate
Rumus Kimia: CaCO3
Komposisi: Calcium Carbonate
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, Bening, Transparan
Kristal Habit: Granular
Kilap: Non Logam ( Vitreous, pearly )
Cerat: Putih
Belahan: 3 arah
Kekerasan: 3 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, opaque, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 2,7
Genesis: Dapat ditemukan baik di batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf.
FLUORITE
Kategori: Mineral Halide
Rumus Kimia: CaF2
Komposisi: Calcium Fluoride
Sistem Kristal: Isometric
Warna: Putih, pink, ungu, merah, biru.
Kristal Habit: Granular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: 4 arah
Kekerasan: 4 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 3,3
Genesis: Dapat ditemukan baik di batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf.
APATITE
 
 
Kategori: Mineral Phospate
Rumus Kimia: Ca5(PO4)3(F,Cl,OH)
Komposisi: Calcium Fluoro-chloro-hydroxyl Phospate
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: 
Kekerasan: 5 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 3,2
Genesis: ditemukan dalam asosiasi dengan pegmatite
ORTHOKLAS
Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: KAlSi3O8
Komposisi: Potassium Alumunium Silicate
Sistem Kristal: Monoklin
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: 2 arah
Kekerasan: 6 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal, uneven
Density: 2,6
Genesis: banyak ditemukan pada granit dan batuan beku asam lainnya.
KUARSA
Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: SiO2
Komposisi: Silicon Dioxide
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: tidak ada
Kekerasan: 7 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Choncoidal
Density: 2,6
Genesis: banyak ditemukan pada granit dan batuan beku asam lainnya, batuan metamorf dan pada batuan sedimen.
TOPAZ
 
 
Kategori: Mineral Silikat
Rumus Kimia: Al2SiO4(F,OH)2
Komposisi: Alumunium Fluoro-hydroxyl Silicate
Sistem Kristal: Orthorhombic
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Tidak berwarna
Belahan: 
Kekerasan: 8 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Subchoncoidal
Density: 3,5
Genesis: Topaz berasosiasi dengan batuan beku asam seperti granit dan rhyolit
KORUNDUM
Kategori: Mineral Oksida
Rumus Kimia: Al2O3
Komposisi: Alumunium Oxide
Sistem Kristal: Hexagonal
Warna: Putih, merah, biru, kuning, bening, coklat, pink, orange, abu-abu
Kristal Habit: Tabular
Kilap: Non Logam ( Vitreous )
Cerat: Putih
Belahan: Tidak ada
Kekerasan: 9 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Uneven
Density: 4,0
Genesis: Corundum berasosiasi dengan batuan miskin silika (felspatoid).
INTAN
 
A clear octahedral stone protrudes from a black rock. 
Kategori: Mineral Native
Rumus Kimia: C
Komposisi: Carbon
Sistem Kristal: Isometric
Warna: Bening
Kristal Habit: Octahedral
Kilap: Adamantine
Cerat: Tidak berwarna
Belahan: 
Kekerasan: 10 skala mohs
Tenacity: Brittle
Transparansi: Transparan, Translucent
Pecahan: Chonchoidal
Density: 3,5
Genesis: Kimberlite rocks

POTENSI BELERANG DAN PEMANFAATANNYA

Tinggalkan komentar

 

 

PENDAHULUAN

Gunung Api merupakan tempat atau bukaan dimana cairan kental pijar ( magma ) dan atau gas, biasanya kedua-duanya keluar ke permukaan Bumi dan bahan padat yang terakumulasi di sekeliling lubang membentuk bukit atau gunung. Istilah yang masih berkaitan dengan gunung api adalah volkanisme. Volkanisme adalah proses alamiah yang berhubungan dengan kegiatan gunung api, termasuk di dalamnya asal mula pembentukan magma di dalam perut Bumi hingga kemunculannya di permukaan Bumi dalam berbagai bentuk dan kegiatannya.

Gunung api merupakan salah satu kekayaan yang dipunyai Negara Indonesia, karena hasil penelitian menyebutkan bahwa gunung api aktif di Indonesia berjumlah 129 buah atau menempati 13 – 17% dari jumlah seluruh gunung api aktif di dunia. Di sisi lain, keberadaan gunung api aktif di Indonesia merupakan bagian dari lingkaran gunung api yang muncul di tepi-tepi Samudera Pasifik atau sering disebut sebagai Cincin Gunung Api ( Ring of Fire on Pasific Rims. Deretan gunung api tersebut memiliki danau kawah dengan air danau yang bersifat asam maupun netral. Delapan buah gunung api memiliki danau kawah dengan air bersifat asam seperti Kawah Putih (Jawa Barat), Telaga Warna (Jawa Tengah), Kawah Ijen (Jawa Timur), Kawah Mahawu (Sulawesi Utara), Kawah Kelimutu (Nusa Tenggara Timur), Kawah Kaba, Kawah Dempo (Sumatera), dan Kawah Gunung Tompaluan atau Lokon (Sulawesi Utara) pasca letusan 2003.

Di Indonesia gunung api tersebar mulai dari barat ke timur meliputi Pulau sumatera, Pulau Jawa, Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Banda, Kepulauan Halmahera, dan Sulawesi Utara hinnga Kepulauan Sangir-Talaud. Rangkaian dari kemunculan gunung api sering disebut sebagai busur gunung api. Sehubungan dengan hal ini dikenal empat busur gunung api aktif yaitu : Busur gunung api Sunda, Busur gunung api Banda, Busur gunung api Halmahera, dan Busur gunung api Sulawesi Utara – Kepulauan Sangihe.

 

 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai